November 14, 2017
Raja Ampat Indonesia

Sahabat petualang pasti tidak asing lagi dengan Kepulauan Raja Ampat dari Indonesia Timur. Keindahan tempat ini tidak perlu diragukan lagi, bahkan sudah diakui dunia. Buktinya, banyak media asing menjuluki Raja Ampat sebagai the last paradise on Earth atau surga terakhir dunia.

Perairannya yang masih sangat terjaga kelestariannya membuat kawasan wisata ini sangat layak untuk dikunjungi. Sebanyak 75% spesies ikan pun hidup di perairan yang jernih ini, di antaranya adalah Eviota raja (King dwarfgoby) dan ikan pari manta (Manta birostris) yang menjadi salah satu spesies ikan pari terbesar di dunia.

Sementara itu, hanya 35 pulau yang memiliki penghuni dari sekian banyaknya pulau yang ada di Raja Ampat. Ada empat pulau besar yang menjadi sentral ekonomi serta budaya masyarakatnya, yaitu Pulau Batanta, Pulau Waigeo, Pulau Misool dan Pulau Salawati.

Aktivitas yang bisa dilakukan di Kepulauan Raja Ampat

Pemandangan laut yang cantik dengan langit berwarna biru menjadi perpaduan yang sempurna untuk memanjakan mata. Ada banyak kegiatan yang bisa Anda lakukan untuk menikmati keelokan perairan Raja Ampat Indonesia, antara lain :
  • Menjelajahi pulau-pulau dengan perahu
  • Diving untuk melihat keindahan serta sisa-sisa reruntuhan kapal di bawah laut
  • Melihat salah satu keindahan unggas khas Papua Barat, burung cenderawasih merah 
  • Memancing dengan cara tradisional Papua
  • Mempelajari cara membuat patung kayu, dipandu oleh para pengrajin dari suku Asmat. 
  • Menjelajahi gua kelelawar
  • Snorkeling

Tempat-tempat wisata yang wajib dikunjungi di Raja Ampat Indonesia

Ada yang mengatakan kalau mengunjungi Raja Ampat Indonesia sama saja seperti pergi ke luar negeri. Lokasinya yang sangat jauh dengan biaya yang mahal adalah beberapa alasannya. Namun, bukan berarti Sahabat Petualang tidak berkesempatan menginjakkan kaki ke sana. Setidaknya, ketahui dulu tempat-tempat wisata di Raja Ampat yang wajib untuk didatangi. Saat hari petualangan di ‘surga terakhir dunia’ itu tiba, Sahabat sudah memiliki gambaran hendak ke mana saja?

Wayag Island

Kepulauan Wayag

Berlokasi di Waigeo Barat, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, Kepulauan Wayag adalah salah satu lokasi yang sayang untuk dilewatkan. Meskipun biaya yang dikeluarkan akan menguras kantong, tapi percayalah… keindahan pemandangannya akan membayar itu semua!

Saking jernih airnya, Anda bisa melihat secara jelas ikan-ikan berenang di dalam air, lengkap dengan terumbu karang yang masih terjaga kelestariannya. Mumpung berada di sana, sekalian saja kunjungi Pulau Karang yang pemandangan bawah lautnya tidak kalah menakjubkan.

Misool Papua

Perairan Pulau Misool

Pulau Misool berbatasan dengan Laut Seram serta perairan lepas yang menjadi jalur lintas ikan-ikan besar, seperti paus. Pulau ini sejatinya tidak berpenghuni sehingga Anda bisa menikmati keelokan Pulau Misool tanpa harus berbagi dengan banyak orang. Air yang sangat jernih berwarna turqoise, hamparan pasir putih serta pohon dan mangrove yang hijau permai menjadi kombinasi sempurna.

Ikan Pari Manta

Stasiun Pencucian Pari Manta

Tempat wisata di Raja Ampat dengan nama unik ini sebenarnya hanya sebuah istilah dari aktivitas ikan pari manta yang pesolek (memerlukan waktu berjam-jam untuk membersihkan diri). Uniknya, ikan pari tersebut tidak membersihkan dirinya sendiri, melainkan ikan-ikan kecil yang melakukannya.

Pencucian ini bertujuan untuk menghilangkan parasit di tubuh dan membersihkan luka-luka sehingga terhindar dari infeksi. Kegiatan ini adalah pemdangan langka sehingga sayang sekali untuk Anda lewatkan.

Pulau Salawati

Pulau Salawati

Perairan di area Pulau Salawati menjadi bukti dahsyatnya perang dunia ke-II karena banyaknya serpihan pesawat dan kapal laut yang tenggelam di dalamnya. Bangkai-bangkai itulah yang saat ini ternyata menyuguhkan pemandangan baru nan elok. Hal ini dikarenakan banyaknya spesies ikan yang tinggal di dalamnya. Ditambah lagi dengan perairan yang jernih serta lingkungan yang masih asri sebagai daya tarik tersendiri bagi para pengunjung.

Itulah keindahan perairan Raja Ampat serta beberapa tempat wisata yang bisa di kunjungi saat berlibur ke sana. Sahabat petualang sudah tidak sabar ingin berlibur? Yuk, sisihkan uang dan dapatkan pengalaman terbaik dengan menyelami setiap sudut perairan Kepulauan Raja Ampat, surga terakhir wisata bahari dari Indonesia Timur.

Oktober 14, 2017
5cm Movie

Celana jeans atau denim merupakan bahan produk fashion yang sangat populer di seluruh dunia. Dan produk fashion berbahan jeans dominan diminati oleh kaum muda, termasuk para petualang. Tak hanya oleh kaum pria, tetapi juga wanita. Sering kali dijumpai beberapa pendaki menggunakan celana jeans saat naik gunung. Produk fashion ini memang sangat cocok bila dipadukan dengan kemeja flanel yang sering dipakai para pendaki. Namun, bolehkah menggunakan celana jeans untuk naik gunung?

Berikut alasan jangan menggunakan celana jeans saat naik gunung!


Celana Jeans Berat

Umumnya celana jeans terbuat dari bahan yang lumayan berat. Hal ini akan menambah bobot barang bawaan kita di dalam tas keril. Apalagi jika terkena air ataupun keringat, mengingat celana bahan ini memiliki kemampuan menyerap yang sangat cepat namun sangat lambat dalam proses pengeringan.

Menyebabkan Iritasi Saat Naik Gunung

Tak hanya berat saat di packing, sama halnya jika digunakan saat pendakian. Celana jeans yang tidak fleksibel akan membatasi pergerakan sendi dan otot-otot ketika berkontraksi. Resiko lain dapat mengakibatkan iritasi pada pangkal paha atau lecet karena tekstur dari bahan ini kasar.

Menyerap dan Menyimpan Hawa Dingin

Selain kemampuanya menyerap air yang sangat cepat, produk berbahan jeans juga menyerap hawa dingin. Tidak hanya itu, bahan jeans juga dapat menyimpan hawa dingin. Jika hawa dingin tidak segera diusir dari badan kita, maka semakin besar potensi terserang hipotermia.

Baca Juga:
Pengertian Hipotermia dan Penyebabnya
Kenali Tanda-Tanda dan Gejala Hipotermia
Cara Menangani Orang yang Terkena Hipotermia

Celana jeans tidak direkomendasikan untuk pendakian. Dalam hal ini tidak terbatas hanya celana, pakaian yang berbahan jeans sebaiknya tidak digunakan saat naik gunung, termasuk jaket jeans. Sebagai alternatifnya kita bisa menggunakan bahan yang mudah kering, fleksibel dan nyaman dipakai selain itu juga ringan agar tidak menambah bobot barang bawaan. Bahan celana yang cocok digunakan saat naik gunung adalah ripstop nilon dan sintetis polyester. Berpetualang bukan untuk bergaya atau memamerkan fashion, tetapi untuk menikmati keindahan alam yang dianugerahkan Sang Pencipta.

September 30, 2017
Kurang lengkap rasanya mengunjungi Pulau Dewata Bali tanpa menikmati kuliner khasnya. Tidak hanya memiliki pantai-pantai dan tempat wisata yang indah, Bali juga menyuguhkan beragam makanan khas Bali yang wajib dicoba!

Masakan Bali memang memiliki daya tarik tersendiri bagi para pencinta kuliner. Racikan bumbu rempah-rempahnya yang pedas memiliki cita rasa yang kuat. Nah, penasaran apa saja makanan khas tersebut? Yuk, simak ulasannya berikut ini.

Makanan Khas Pulau Dewata

  1. Ayam Betutu.
    Ayam Betutu Bali
    Ayam betutu memang menjadi makanan khas Bali yang tidak boleh dilewatkan dari daftar wisata kuliner saat berlibur. Ayam betutu adalah ikon makanan khas Pulau Dewata. Apabila kamu suka makanan yang pedas, bersiaplah untuk hanyut ke dalam rasa hidangan betutu yang kaya akan rempah-rempah. Selain ayam, hidangan betutu ini biasanya juga menggunakan bebek yang rasanya tidak kalah enak!

  2. Tipat Blayag.
    Tipat Blayag Bali
    Tipat blayag memiliki bentuk seperti lontong, dibuat dengan cara dililit memanjang menggunakan daun enau atau janur muda. Potongan tipat blayag, ayam sisit, sayur urap, gorengan ceker ayam, kacang kedelai hingga kerupuk kulit, disuguhkan dengan campuran bumbu bali serta olahan tepung beras. Tekstur bumbunya kental, mirip dengan santan.

  3. Sate Lilit.
    Sate Lilit Khas Bali
    Makanan khas Bali selanjutnya yang wajib Anda cicipi adalah sate lilit. Sate ini berbeda dengan sate pada umumnya karena dagingnya tidak ditusuk, melainkan dililit. ditusuk). Teksturnya yang empuk dengan rasa yang gurih pastinya akan membuat Anda ketagihan. Terlebih jika sate menggunakan batang daun serai, Anda dapat langsung mencium wanginya yang sedap. Umumnya, daging yang digunakan untuk membuat sate lilit adalah daging ayam, ikan tenggiri dan babi. Namun, sate lilit yang terbuat dari ikan tenggiri menjadi primadonanya.

  4. Rujak Kuah Pindang atau Rujak Bulung.
    Rujak Bulung
    Rasakan sensasi segar sekaligus pedas saat menyantap rujak kuah pindang. Tidak hanya buah mangga, kamu juga bisa lo mengganti isiannya dengan rumput laut yang biasa dikenal dengan nama bulung.

  5. Nasi Jinggo.
    Nasi Jinggo
    Mau menikmati makanan yang murah meriah dan enak di Bali? Kalau iya, kamu perlu mencoba nasi jinggo. Kuliner ini disuguhkan dengan daun pisang sebagai pembungkusnya, dengan sambal yang super pedas. Nasi Jinggo memiliki porsi sebesar kepalan tangan orang dewasa dengan lauk pauk yang umumnya terdiri dari mi goreng, daging ayam suwir, serta tempe goreng. Harganya pun relatif murah. sekitar Rp3000–Rp5000. Sangat  pas untuk para petualang wisata yang liburan dengan bujet tipis.

  6. Lawar Kuwir.
    Lawar Kuwir
    Lawar kuwir adalah salah satu makanan khas Bali  yang mampu menggoyang lidah. Isinya terdiri dari campuran daging cincang. lengkap dengan sayuran yang bervariasi dan diramu dengan bumbu khas Bali. Umumnya, lawar kuwir menggunakan daging babi atau bebek. Cara membuatnya pun cukup sederhana, yaitu dengan mencincang daging babi atau bebek, lalu ditambahkan sayuran seperti kancang panjang. Selanjutnya, daging diolah dengan parutan kelapa dan tak lupa bumbu rempah khas Bali untuk membuat hidangannya bercita rasa tinggi.

  7. Nasi Campur Ayam Bali.
    Nasi Campur Khas Bali
    Apabila Anda tidak punya banyak waktu untuk menikmati semua makanan khas Bali di atas, cobalah nasi campur ayam bali untuk mendapatkan semua hidangan tersebut dalam satu piring. Sate lilit, sayur urap, suwiran ayam sisit dengan bumbu basa genep Bali serta lawar ayam bisa Anda santap lengkap dengan nasi putih. Jangan lupa untuk menambahkan sambal embel dan sambal matah untuk mendapatkan sensasi rasa yang lebih enak lagi. 
Itu dia makanan khas Pulau Dewata Bali yang bisa dicoba saat berlibur ke Bali. Kira-kira, manakah yang menjadi favorit Sahabat Petualang?

Juni 18, 2017
Tips Mendaki Gunung Bersama Anak

Mungkin, tidak banyak orang tua yang berinisiatif mengajak sang buah hati untuk mendaki gunung. Alasannya pun beragam. Padahal, banyak manfaat yang bisa didapatkan dengan mendaki bersama anak, antara lain menumbuhkan kecintaan anak terhadap alam, mengasah keberanian dan ketangkasannya, serta mempererat hubungan anak dan orang tua.

Mendaki gunung bersama keluarga dan buah hati sendiri malah sudah mulai menjadi tren. Banyaknya pendaki cilik yang dijumpai dalam setiap pendakian menjadi bukti bahwa kegiatan ini dapat dilakukan oleh siapa saja. Bukan hanya Anda yang bisa menjadi petualang, anak Anda juga bisa, tetapi sebelumnya simak dulu tips mendaki bersama anak berikut ini.

Tips Mendaki Bersama Anak

  1. Mulailah dari Usia Dini
    Anda bisa membawa anak melakukan kegiatan di luar rumah sedini mungkin. Tak perlu bepergian jarak jauh atau menjadi backpacker. Anda hanya perlu menggendongnya serta memperkenalkannya dengan hal-hal di luar rumah. Menghabiskan waktu di ruang hijau terbuka akan membantu mengurangi stres dan membuat anak terbiasa bersahabat dengan alam.
  2. Hindari Sikap Tergesa-gesa
    Walaupun Anda adalah petualang alam atau pendaki yang handal, hindarilah memaksa sang buah hati mencapai puncak. Ini akan membuatnya merasa pendakian adalah hal yang buruk. Peranan para orang tua saat mengajak sang buah hati mendaki adalah mengarahkan, mengajarkan mereka untuk mengenal hal-hal baru, dan terus memberikan semangat.
  3. Libatkanlah Anak-Anak Anda
    Tahukah Anda bahwa ternyata memberikan tugas pada anak akan membuat mereka bersemangat. Anda bisa melibatkan mereka dalam mencari jalur pendakian (untuk anak yang paling tua) atau menyiapkan makanan ringan. Lakukan juga piknik saat beristirahat dalam pendakian, buatlah seperti permainan atau bahkan petualangan yang menyenangkan. Kenalkan juga anak-anak dengan jenis-jenis pohon yang ada di sekitarnya.
  4. Bantu Anak untuk Menghilangkan Rasa Takutnya
    Perlu diingat bahwa tidak semua anak menyukai ide untuk melakukan pendakian. Mungkin salah satunya didasari dengan perasaan takut. Peranan sebagai orang tua adalah meyakinkan sang buah hati bahwa pendakian akan baik-baik saja, bahkan banyak hal baru yang bisa ditemukan oleh mereka. Dengan terus memberikan semangat serta mendorong anak untuk melakukan hal-hal yang baru, dia pun akan tumbuh menjadi sosok pemberani. Hal terpenting, Anda selalu berada di samping sang buah hati dan mengawasinya saat mendaki.
  5. Melakukan Persiapan Secara Matang
    Mendaki bersama keluarga tercinta memang menjadi pengalaman yang seru dan tidak akan terlupakan. Namun, Anda juga tidak bisa menyepelekan rencana pendakian. Bagi orang tua yang pertama kali mengajak sang buah hati untuk mendaki, sebaiknya mintalah bantuan pemandu yang sudah berpengalaman. Selain itu, jangan memaksa untuk mendaki ke tempat yang terlalu tinggi. Persiapkanlah secara matang dan bawalah peralatan yang lengkap, misalnya obat-obatan, kacamata, senter, peralatan mendaki, selimut, makanan dan minuman, serta perlengkapan mendaki lain yang diperlukan.
  6. Jangan Panik
    Ada saatnya anak merasa takut, tidak nyaman, atau perasaan lain yang membuatnya menangis. Para orang tua tidak perlu panik saat menghadapi situasi ini. Ingatlah bahwa Anda sebagai orang tua membawa anak yang baru pertama kali mendaki gunung. Anda bisa menenangkan sang buah hati dengan cara memeluknya dan menanyakan apa yang mereka perlukan. Ciptakanlah energi positif pada anak selama melakukan pendakian, dan jangan lupa untuk menjalin kerja sama dengan anak.
Itulah tips-tips yang bisa Anda lakukan apabila ingin mendaki bersama anak. Selamat mencoba!

Mei 11, 2017 1
Perbedaan Ular Berbisa dan Tidak Berbisa

Halo, Sahabat Petualang! Apa yang ada di pikiran Anda saat pertama kali mendengar kata 'ular'? Geli, ngeri, atau apakah? Membayangkan gigitan ular dengan bisa yang mematikan memang membuat siapa pun langsung bergidik ngeri. Padahal, tidak semua ular berbisa. Namun, tetap saja sulit melihat perbedaan ular berbisa dan yang tidak, sehingga orang-orang pun langsung lari setiap kali melihatnya.

Baca Juga:
Pertolongan Pertama! Tips Mengobati Gigitan Ular Berbisa

Apa Itu Ular Berbisa dan Tidak Berbisa?

Ular berbisa tentunya dikenal memiliki racun yang mematikan. Sebagian ular memiliki bisa yang sangat kuat, sementara yang lainnya berbisa rendah. Ular berbisa biasanya menyuntikkan racun lewat taringnya. Contoh ular berbisa adalah viper, kobra dan spesies terkait.

Sementara itu, ular yang tidak berbisa tentu tidak memiliki racun. Sebagian jenis ular tidak berbisa ini adalah boa, anaconda, piton dan masih banyak lagi. Namun demikian, gigitan ular tidak berbisa berukuran besar biasanya terasa menyakitkan karena rahangnya yang kuat. Bahkan, gigitan tersebut bisa berakibat fatal.

Perbedaan Mendasar Antara Ular Berbisa dengan Ular Tidak Berbisa 

Berikut ini  beberapa hal mendasar untuk memudahkan Anda membedakan mana ular yang berbisa, mana yang tidak.

Ular Berbisa (poisonous)

  • Bertaring pada bagian rahang atas
  • Sebagian besar memiliki warna yang terang serta mencolok
  • Berpola sisik dalam satu baris di bagian ekornya
  • Memiliki mata yang lonjong dengan pupil elips serta tajam
  • Memiliki lubang di dekat lubang hidung (nostril)
  • Memiliki kepala berbentuk segitiga

Ular Tidak Berbisa (nonpoisonous)

  • Tidak mempunyai taring
  • Memiliki bentuk mata dan pupil yang bulat
  • Sebagian besar berwarna sederhana dan berpola
  • Tidak memiliki lubang di dekat lubang hidung (nostril)
  • Berpola sisik dua baris di bagian ekor
  • Kepalanya tidak berbentuk segitiga

Cara Membedakan Ular Berbisa dan Tidak

Tidak hanya ciri fisik saja, ada banyak sisi yang bisa Anda lihat untuk mencari tahu apakah ular tersebut berbahaya atau tidak. Apa sajakah? Ini dia ulasannya:
  1. Ular yang Tidak Berbisa Cenderung Agresif, Sedangkan yang Lambat Justru Berbisa
    Kebanyakan, ular yang tidak berbisa cenderung agresif. Agresivitas dari ular tersebut hanya sebagai upaya untuk bertahan atau menakut-nakuti saat berada dalam keadaan terusik dan bahaya. Berhati-hatilah dengan ular yang tenang dan bergerak lambat karena biasanya memiliki bisa yang tinggi, misalnya King Cobra.

  2. Ular Berbisa Tak Membelit
    Ular yang berbisa cenderung tidak membelit mangsanya. Sebab, satu gigitan mereka saja sudah bisa membuat mangsanya tergeletak tidak berdaya, bahkan mati. Sementara itu, ular yang tidak berbisa cenderung akan membelit agar mangsanya mati.

  3. Jenis Gigitan
    Jika Anda digigit ular, coba lihat bekas gigitan tersebut. Apabila bekasnya berupa dua titik, itu adalah indikasi gigitan ular yang berbisa.. Jika gigitan meninggalkan bekas luka berbentuk dereten yang melengkung membentuk gigi, maka itu bukanlah jenis ular yang berbisa.

  4. Perhatikan Apa Ular Tersebut Langsung Pergi atau Tidak Setelah Menggigit Mangsanya
    Apabila ular tersebut tidak langsung pergi setelah menggigit, maka itu adalah ular berbisa. Ular berbisa memiliki kebiasaan untuk menunggu mangsanya mati di hadapannya. Sementara itu, ular yang tidak memiliki bisa cenderung langsung pergi usai menggigit mangsanya.

  5. Bentuk kepala
    Ular yang tidak berbisa memiliki bentuk kepala lonjong seperti telur, sementara yang berbisa memiliki bentuk kepala segitiga. Namun, perlu diingat bahwa ada beberapa jenis ular berbisa yang tidak memiliki bentuk kepala segitiga, tetapi bisanya mematikan.
Nah, itu dia penjelasan mengenai ular berbisa serta cara membedakannya. Jadi, mulai sekarang Sahabat Petualang tahu kan, ternyata perbedaan ular berbisa dengan yang tidak itu bisa dilihat dari fisiknya dan perilaku si ular tersebut.

Mei 11, 2017
Pertolongan Pertama pada Gigitan Ular Berbisa

Mimpi buruk para petualang saat menelusuri hutan ataupun di alam bebas adalah kemunculan seekor ular yang tiba-tiba langsung menyerang. Kejadian ini membuat kebanyakan orang menjadi panik. Betapa tidak, jika yang menggigit adalah ular berbisa dan Anda tidak langsung mendapatkan pertolongan, akibatnya akan fatal hingga berujung pada kematian.

Oleh karena itu, jangan pernah menganggap remeh gigitan ular. Kalau Anda berada di sekitar rumah sakit, mungkin hal ini bisa langsung diatasi, tapi bagaimana kalau Anda sedang berada di alam bebas? Jangan panik! Anda hanya perlu mempelajari pertolongan pertama dalam mengobati ular berbisa. Jika dilakukan dengan benar, 'bisa' dari ular terganas pun dapat diatasi.

Baca Juga:
Yuk, Cari Tahu Perbedaan Ular Berbisa dan Tidak Berbisa

Berikut ini pertolongan pertama yang dapat dilakukan:
  1. Jauhi Lokasi
    Langkah pertama adalah menjauh dari lokasi untuk mengamankan posisi Anda terlebih dahulu. Pikirkan bagaimana nasib Anda setelah digigit ular ketimbang mencari cara untuk membunuh ular tersebut. Anda harus menjauhi daerah jangkauan ular untuk menghindari gigitan ular untuk kedua kalinya.

    Jangan menghindar atau berlari terlalu jauh. Jika tubuh bergerak dengan kecepatan berlebihan, jantung akan berdenyut lebih cepat sehingga racun menyebar ke seluruh tubuh.

    Anda bisa berjalan ke tempat yang jauh dari jangkauan ular, seperti tanah lapang, batuan datar di tempat tinggi atau tempat-tempat yang tidak dijadikan sebagai sarang persembunyian ular. Cobalah untuk tidak melakukan gerakan sama sekali apabila Anda sudah berada di tempat yang aman.

  2. Batasi Gerakan Anda Serta Lindungi Bagian Tubuh yang Terkena Gigitan Ular
    Meskipun Anda harus membatasi gerakan, hindari mengikat bagian yang terkena gigitan ular. Tidak hanya itu, Anda juga perlu mempertahankan bagian tersebut agar lebih rendah dari posisi jantung. Ini akan mencegah aliran darah ke arah jantung sehingga tidak menyebarkan racun ke seluruh jaringan tubuh.

    Anda bisa membuat belat untuk mencegah bagian tubuh yang terkena gigitan ular tersebut bergerak. Gunakan papan atau batang kayu dan posisikan di kedua sisinya. Selanjutnya, ikat kain di bagian tengah, bawah. dan atas papan demi menjaga posisinya.

  3. Gunakan Kain, Tali, Pita atau Sejenisnya
    Selalu siapkan kain, tali, atau pita dalam tas Anda saat ingin melakukan perjalanan di alam bebas. Sebab, benda-benda tersebut bisa dijadikan sebagai alternatif untuk mengikat bagian atas anggota badan Anda yang tergigit ular. Ikat tali sekencang mungkin dan kendurkan ikatan setiap 15 menit selama semenit.

  4. Buat Sayatan Menyilang di Area Gigitan
    Cara ini sangat disarankan untuk Anda yang yang jauh dari pusat pelayanan kesehatan dengan jarak 30 menit. Anda bisa membuat sayatan menyilap di area gigitan ular menggunakan pisau atau silet yang bersih. Kemudian, keluarkan bisa ular dengan cara disedot menggunakan jarum suntik atau spuidi (sebaiknya lepaskan jarumnya terlebih dahulu). Hindari menyedot bisa ular dengan mulut Anda. Apabila tidak ada jarum suntik, Anda bisa mengurut area gigitan tersebut secara perlahan hingga bisanya keluar (jangan memegang bekas gigitan).

  5. Pergi ke Pusat Pelayanan Kesehatan Terdekat
    Apabila Anda sudah melakukan pertolongan pertama dengan sigap, langkah selanjutnya adalah mencari pusat pelayanan kesehatan terdekat. Tentunya untuk membantu mengobati ular berbisa secara medis.
Nah, itu dia pertolongan petama yang bisa dilakukan untuk mengobati gigitan ular berbisa. Jadi, apabila di kemudian hari Anda atau petualang lainnya mengalami kejadian ini, tidak perlu panik dan kebingungan lagi dalam mengatasinya. Namun harus tetap diingat bahwa mendapatkan pertolongan medis dari dokter adalah yang terpenting.
Diberdayakan oleh Blogger.